Senin, 12 Juli 2021

LAPORAN BACAAN 10

Identitas Jurnal :

Judul: Pengembangan Kurikulum dalam Pembelajaran Abad XXI

Penulis: Purwadhi

Penerbit: MIMBAR PENDIDIKAN: Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan

Volume:  Volume 4(2), September 2019

 

 

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang Pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.. darin yang saya baca dari jurnal ini, di kurikulum 2013 di bandingkan dengan kurikulum sebelumnya, kurikulum 2013 di Indonesia juga di kembangkan berdasarkan 5 landasan yakni: Landasan Filosofis,  landasan sosiologis, Lanndasan Psiko- Pedagogik, Landasan teoritis, dan yang terakhir landasan yuridis.

Dan didalam penyusunan kurikulum 2013 ini dalam pengembangannya telah pula ditetapkan peraturan sebagai landasan operasional pada masing-masing satuan Pendidikan.

Menurut Abidin, 2014; Latief, 2014; dan Suarga, 2017 Abad XXI adalah abad yang bisa dibilang penuh harapan dan juga ancaman. Penuh pengharapan, karena perkembnagan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dibandingkan dengan empat abad sebelumnya, sehingga manusia dapat memperoleh kemudahan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.   Pemenuhan kebutuhan tidak sekedar fungsinya, tetapi sudah dikemas dalam bentuk pelayanan yang lebih baik, diwarnai dengan sentuhan seni, memilki rasa peradaban super modern, dan keunikan. Dari hal di atas kemudahan tersebut terdapat satu ancaman. Satu di antaranya adalah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin parah, sumber daya alam semakin menipis, konflik sosial semakin meluas, serta ancaman kepunahan sumber daya hayati dari tumbuhan dan hewani. Pengembangan kurikulum, selain mempertimbangan landasan filosofis, sosiologis, psiko-pedagogis, teoritis, dan landasan yuridis (Djuandi, 2013),  mengacu pada pertimbangan yang bertalian dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, yang digunakan sebagai kaidah yang harus ditempuh dan menjiwai suatu kurikulum yang akan disusun atau dikembangkan. Prinsipprinsip pengembangan kurikulum dapat dikembangkan sendiri, atau menggunakan prinsip yang telah ada, serta berkembang dalam kehidupan sehari-hari

LAPORAN BACAAN 9

 Identitas Buku


Judul : Management Sekolah Berbasis ICT

Penulis : Nurdyansyah, M.Pd. & Andiek Widodo, M.M.

Penerbit : Nizamia Learning Center

Cetakan : Kedua, Juni 2017

Tebal : vi + 155 hlm.; 14 cm x 21 cm


PENDAHULUAN

Buku yang dilaporkan adalah buku yang berjudul Management Sekolah Berbasis ICT yang ditulis oleh Nurdyansyah, M.Pd. & Andiek Widodo, M.M. Diterbitkan oleh Nizamia Learning Center, cetakan kedua pada bulan Juni tahun 2017, dan memiliki tebal 155 halaman.

Buku ini menekankan pada konsep manajemen berbasis Sekolah, Fungsi manajemen, system pengelolaan sekolah bermutu dan model pembelejaran berbasis ICT. 

Buku ini terdiri dari lima bab dengan penekanan yang berbeda-beda setiap babnya. Setiap bab juga telah disusun secara sistematis sesuai urutan materi dan tahapan pemahaman tentang manajemen sekolah berbasis ICT. 

Melalui buku ini diharapkan dapat memberikan modal pengetahuan bagi para pengamat pendidikan serta para pimpinan satuan pendidikan. Selain itu, juga diperuntukkan bagi para mahasiswa untuk mengembangkan buku ini dan menjadi rujukan referensi.


LAPORAN BAGIAN BUKU

Penulisan buku Manajemen Sekolah Berbasis ICT ini diharapkan bisa menjadi bahan bacaan dan referensi agi para pemerhati pendidikan khususnya bagi civitas akademika di Sekolah atau madrasah.


BAB I : MANAGEMENT SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan tentang Konsep Manajemen Berbasis Sekolah, Prinsip Manajemen Sekolah, Ruang Kajian Manajemen Sekolah, serta Fungsi-Fungsi Menajemen.


Penulis menuliskan pada bagian ini bahwa Manajemen Sekolah bermutu merupakan salah satu model pengelolaan yang memberikan otonomi kepada madrasah atau Kepala sekolah untuk pengambilan Pengambilan Kebijakan partisipatif secara langsung sesuai dengan standar pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota.


BAB II : MENGELOLA SEKOLAH BERMUTU

Pada BAB ini penulis menyajikan tentang Proses Penerapan Manajemen Sekolah, Sistem Tata Kelola Sekolah, serta Landasan Sekolah Bermutu. 


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Penerapan Manajemen Sekolah dalam pelaksanaannya harus melibatkan seluruh pengelola pendidikan di sekolah yaitu kepala sekolah, Pendidik, komite sekolah, tokoh masyarakat setempat dan bahkan pakar pendidikan harus dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Disinilah proses pembelajaran itu berlangsung dan semua pihak saling memberikan kekuatan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan sekolah.


BAB III : ASPEK MANAJEMEN SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan tentang Aspek-Aspek Manajemen Sekolah, serta Paradigma Baru Pendidikan.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Dalam pengelolaan suatu lembaga pendidikan, manajemen sekolah merupakan suatu proses kegiatan yang terdiri dari berbagai kegiatan manajerial dan operasional guna mendukung tercapainya terlaksananya pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan secara efektif dan efisien. Pengelolaan disetiap aspek manajemen sekolah dengan efektif dan efisien merupakan hal yang mutlak supaya suatu lembaga pendidikan berkembang secara optimal dan dinamis.


BAB IV : MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Pada BAB ini, penulis menyajikan bahan bacaan tentang Pengertian Pembelajaran Berbasis ICT, Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis ICT, Aplikasi Pembelajaran Berbasis ICT, serta Unsur Pengembangan pembelajaran.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengolahan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, hubungan computer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan social, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980].


BAB V : IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MENAJEMEN SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan pembahasan mengenai Pengertian Sistem, Pengertian informasi, Konsep Sistem Informasi Manajemen dalam pendidikan.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Berdasarkan pada elemen/komponennya sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan teretentu (Jogiyanto, 2001). Jadi Sistem adalah sekumpulan elemen-elemen yang berinteraksi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.


LAPORAN BACAAN 8

 Identitas Jurnal


Judul: Penting nya memahami karakteristik siswa


Penulis: Nevi Septiani


Penerbit: As-Sabiqun : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini


Volume : Volume 2, Nomor 1, Maret 2020; 7-17


Sumber : https://cdn-gbelajar.simpkb.id




Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas bangsa karenanya kemajuan bangsa dan kemajuan pendidikan merupakan suatu determinasi. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran menjadi ujung tombak bagi terciptanya pendidikan yang berkualitas. Hanya dengan pembelajaran yang berkualitaslah suatu instansi dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Dalam tataran operasional, tenaga pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab bagi terselenggaranya pembelajaran yang berkualitas. Untuk itu sangat penting bagi tenaga pendidik memiliki kompetensi dan standar kualifikasi pendidikan agar pembelajaran mencapai efektivitas dan efisiensinya.


Perkembangan zaman telah membuat perkembangan dalam pendidikan terkait ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan persaingan global secara ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut. Pendidikan di era global diharapkan mampu mengatasi permasalahan pendidikan terkait moral dan sosial masyarakat Indonesia, khususnya peserta didik. Pendidikan ini melahirkan konsep baru yaitu pendidikan abad 21 dimana pembelajaran ini memiliki perbedaan dengan pembelajaran di masa yang lalu.Untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center).


Banyak faktor penyebab kualitas pendidikan rendah, di antaranya kegiatan pembelajaran yang kurang tanggap terhadap kemajemukan individu dan lingkungan tempat siswa berada. Pembelajaran demikian kurang bermanfaat bagi siswa. Agar pembelajaran bermakna, perlu dirancang dan dikembangkan berdasarkan pada kondisi siswa sebagai subjek belajar dan komunitas budaya tempat siswa tinggal.Siswa adalah manusia yang memiliki sejarah, makhluk dengan ciri keunikannya (individuallitas). Pemahaman akan subjek belajar harus dimiliki oleh guru atau tenaga kependidikan lainnya untuk dijadikan pijakan dalam mengembangkan teori ataupun praksis-praksis pendidikan dan pembelajaran.


Karakteristik peserta didik sangat penting untuk diketahui oleh pendidik,karena ini sangat penting untuk dijadikan acuan dalam merumuskan strategi pengajaran. Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi dan metode pembelajaran berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.


Menurut Kemp dalam Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J.R.David l, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.


Reigeluth (1983) sebagai seorang ilmuan pembelajaran, bahkan secara tegas menempatkan karakteristik siswa sebagai satu variabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi pengelolaan pembelajaran.


(Menurut penelitian Kemp dalam Wina Senjaya (2008), strategi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran yang harus diselesaikan oleh guru dan siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu, mengutip pemikiran J.R. David I, Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran mencakup perencanaan. Artinya strategi pada dasarnya masih merupakan konsep tentang keputusan yang akan diambil dalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagai ilmuwan pembelajaran, Reigeluth (1983) bahkan secara eksplisit menganggap karakteristik kepribadian siswa sebagai salah satu variabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi manajemen pembelajaran).


Akar pembelajaran seperti Banathy, Romiszowski, Dick dan Carey, Gagne dan Degeng, menempatkan langkah analisis karakteristik siswa pada posisi yang sangat penting sebelum langkah pemilihan dan pengembangan strategi pembelajaran. Semua ini menunjukkan bahwa model pembelajaran apapun yang dikembangkan atau strategi apapun yang dipilih untuk keperluan pembelajaran haruslah berpijak pada karakteristik perseorangan atau kelompok dari siapa yang belajar. Untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang optimal, terlebih dahulu guru perlu mengetahui karakteristik siswa sebagai pijakannya. Analisis karakteristik siswa dilakukan setelah perancang pembelajaran mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Juga ditunjukkan bahwa hasil analisis karakteristik siswa selanjutnya dijadikan pijakan kerja dalam memilih,menetapkan, dan mengembangkan strategi pengelolaan pembelajaran. Dengan konteks seperti ini, menjadi semakin jelas perlunya dilakukan penelitian karakteristik siswa yang berkaitan dengan kefektifan pembelajaran agar dapat dipakai sebagai dasar bagi para ilmuwan dan teknolog pembelajaran serta para guru dalam mendesain program-program pembelajaran.


Dewanti (2009: 25) membuktikan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan guru jika disesuaikan dengan kebutuhan siswa akan meningkatkan efektivitas belajar siswa. Ia menyarankan, strategi pembelajaran di kelas seharusnya mempertimbangkan keadaan siswa dan manfaatnya bagi kehidupan mereka sehari-hari.


Penelitian Siskandar (2009:183) menambah bukti bahwa faktor internal atau faktor yang datang dari dalam diri siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Untuk itu, ia menyarankan aga pembelajaran berpusat pada gaya belajar siswa atau pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuannya. Dengan demikian, bahan ajar modul sebaiknya dibuat sendiri oleh guru agar lebih menarik serta lebih konstektual dengan situasi dan kondisi sekolah maupun lingkungan sosial budaya peserta didik. Namun, saat ini masih jarang guru yang membuat bahan ajar sendiri, sebagian besar guru masih menggunakan bahan ajar yang beredar di pasaran (Ali Mustadi, 2015). Jika dalam menyampaikan materi pelajaran guru kurang memperhatikan karakteristik siswa dan ciri-ciri kepribadian siswa tidak dijadikan pijakan dalam pembelajaran, siswa akan mengalamai kesulitan memahami materi pelajaran. Mereka merasa bosan, bahkan timbul kebencian terhadap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Kondisi demikian sebagai penyebab rendahnya kualitas dan kuantitas proses serta hasil belajar yang telah diprogramkan. Upaya apa pun yang dipilih dan dilakukan oleh guru dan perancang pembelajaran jika tidak bertumpu pada karakteristik perseorangan siswa sebagai subjek belajar, maka pembelajaran yang dikembangkan tidak akan bermakna bagi siswa.


Karakteristik siswa yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang amat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, kemampuan awal, gaya kognitif, gaya belajar, motivasi, dan faktor sosial-budaya. Informasi tentang tingkat perkembangan kecerdasan siswa amat diperlukan sebagai pijakan dalam memilih komponen-komponen dalam pembelajaran, seperti tujuan pembelajaran, materi, media, strategi pembelajaran, dan evaluasi (Gardner, 1993; Amstrong, 1994). Menurut Suparno (2001), siswa yang berada pada tahap pemikiran operasional konkret sudah memiliki kecakapan berpikir logis, tetapi hanya melalui benda-benda konkret sehingga semua komponen pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan tersebut. Sebaliknya, mereka yang sudah berada pada tahap operasi formal sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Mereka sudah dapat berpikir ilmiah, baik deduktif maupun induktif, serta mampu menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesis. Oleh sebab itu, komponen-komponen pembelajaran sudah dapat dirancang sedemikian rupa untuk diarahkan pada kemampuan tersebut. Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak.


Penting bagi Guru Pintar untuk dapat mengenali dan memahami karakteristik peserta didik. Salah satu manfaat ketika Guru mengenali dan memahami karakter siswa adalah proses belajar mengajar yang berlangsung dengan lebih baik.


1. Kenali Temperamen Siswa


Pada dasarnya, bagaimana siswa memahami materi pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya terkait erat dengan temperamen siswa itu sendiri. Bahkan eksplorasi cara-cara baru dalam menuntaskan tugasnya juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik siswa. Ada sebagian siswa yang tampak antusias dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada pula karakter siswa yang cenderung berhati-hati saat beradaptasi degan lingkungan baru, namun semakin santai seiring waktu. Dan, ada karakter siswa yang lambat beradaptasi serta rentan menampilkan ledakan emosi.


2. Amati Siswa selama Proses Belajar


Sebagai individu, karakter siswa tampak dari caranya berkomunikasi – baik verbal maupun non-verbal. Bagaimana siswa berinteraksi dengan teman-temannya juga bisa memberi petunjuk tentang karakteristiknya. Lebih dari itu, pola interaksi yang sama boleh jadi terulang pada saat siswa harus bekerja dan mengerjakan tugasnya dalam kelompok. Raut muka juga mampu menunjukkan apakah siswa sudah memahami materi pelajaran atau belum. Karakteristik siswa juga dapat diamati dari perilakunya – apakah relatif tenang, mengganggu kelas, dan seterusnya. Pada akhirnya, proses belajar seorang siswa yang kurang lancar dapat menghambat proses belajar mengajar kelas – dengan mengganggu temannya, misalnya.


3. Komunikasi Dua Arah


Komunikasi dua arah menjadi penanda penting karakteristik guru dan siswa abad 21. Komunikasi dua arah berperan penting sebagai sarana Guru untuk mengetahui sudut pandang dan perasaan siswa. Bahkan, siswa dapat menyampaikan apa yang ingin diketahui dan dipelajarinya melalui komunikasi yang baik dengan Gurunya. Tugas atau project juga dapat didiskusikan bersama siswa. Melibatkan siswa dalam menentukan tugas yang akan dibuat, termasuk ketua kelompoknya, merupakan bentuk komunikasi dua arah yang berjalan baik. Cara mengelola kelas dengan karakteristik siswa yang berbeda adalah dengan memahami setiap karakteristik yang ada. Akan tetapi, komunikasi dua arah yang baik mampu menentukan pemahaman karakteristik siswa tersebut akan dibawa ke mana.


4. Menyertakan Siswa pada Program Pengenalan Diri


Jika karakteristik siswa dapat dipahami melalui observasi, bakat dan minat memerlukan cara pemahaman yang berbeda. Bakat siswa tampak dari kemampuannya, prestasinya, bahkan tes intelegensinya. Sedangkan minat siswa tampak pada hobinya, kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya, kegiatan yang disukainya, maupun tes minat yang diambilnya. Semakin baik siswa mengenal dirinya sendiri, semakin mudah bagi Guru untuk membantu mengarahkannya dalam memahami pelajaran. Di sisi lain, semakin baik pemahaman Guru tentang karakteristik siswa, semakin baik manajemen kelas. Jadi, pemahaman karakter siswa membawa dampak positif bagi diri siswa sendiri maupun Guru.


Kegiatan pembelajaran dalam pendidikan di Indonesia bersifat klasikal yang melibatkan siswa dan guru. Pembelajaran yang bersifat klasikal tentu membutuhkan proses persiapan dan perencanaan pada desain pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal tersebut karena terdapat keberagaman karakteristik, antar siswa yang satu dengan yang lain memiliki karakteristik yang berbeda. Para pendidik dalam hal ini guru perlu memperhatikan karakteristik siswa sebagai peserta didiknya. Penguasaan guru terhadap karakteristik siswa dapat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran, diantaranya dalam menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan. Seorang guru harus cerdas dalam pemilihan metode pembelajaran, agar dalam keberagaman karakteristik, siswa mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Oleh karena itu pengenalan terhadap karakteristik siswa harus dilakukan. Upaya guru dalam mengenal sekaligus menguasai karakteristik siswa membutuhkan dukungan dari banyak pihak, diantaranya pengelola sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri. Pihak pengelola sekolah dapat membantu dengan pengadaan kegiatan yang dapat mengidentifikasi karakteristik siswa. Kegiatan tersebut misalnya, tes intelegensi, tes minat bakat, dan bimbingan konseling. Selain pihak pengelola sekolah, diharapkan orang tua juga dapat memberikan masukan dan saran kepada guru menyangkut informasi tentang karakteristik anaknya. Guru juga dapat melakukan pendekatan secara personal untuk lebih mengenal karaktersitik siswanya. Seorang guru yang telah mengetahui karakteristik masing-masing siswanya akan lebih mudah dalam merencanakan pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dapat membantu kefektifan proses belajar. Selain itu juga dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep materi dan berinteraksi secara aktif terhadap lingkungannya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat tercapai.



LAPORAN BACAAN 7

 Identitas Jurnal


Judul: URGENSI MANAJEMEN KELAS 


UNTUK MENCAPAI TUJUAN PEMBELAJARAN


Penulis: Yeni Asmara, Dina Sri Nindianti


Penerbit: SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah, 


Volume : Vol. 1, No. 1 (Jan-Juni 2019): 12-24.



Manajemen kelas seperti yang dijelaskan oleh Djamarah (2006:51) yaitu serangkaian kegiatan sistematis sebagaisuatu upaya dalam mendayagunakan potensi kelas yang ada oleh guru dengan seoptimal mungkin sehingga dapat mendukung terjadinya proses interaksi edukatif antara peserta didik dengan tenaga pengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan pengertian lain dapat diartikan bahwa manajemen kelas menunjukkan sebagai bentuk pola tingkah laku yang kompleks dari tenaga pengajar dalam hal ini guru sebagai upaya mewujudkan proses pengajaran dan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan secara efektif dan efisien.


konsep manajemen kelas menunjukkan suatu upaya yang dilakukan guru dalam melakukan pengelolaan siswa dalam proses pembelajaran di kelas dengan melakukan serangkaian kegiatan yang sistematis dalam menciptakan dan memelihara lingkungan atau kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan sehingga dapat menunjang program pengajaran yang telah direncanakan sebelumnya serta dapat menimbulkan, meningkatkan serta mempertahankan motivasi belajar siswa sehingga diharapkan siswa dapat selalu aktif dalam melibatkan diri pada saat proses pembelajaran atau dapat berperan aktif pada proses pendidikan di sekolah. Dengan arti lain bahwa manajemen kelas merupakan pola prilaku guru yang kompleks yang ditunjukkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sebagai suatu upaya agar dapat menciptakan dan memelihara kondisi pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal dan tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.


Adapun tujuan manajemen kelas agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan optimal dan sesuai dengan perencanaan kegiatan sebelumnya sehingga tujuan umum dan khusus dari pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien serta membantu memberikan kemudahan bagi siswa dalam mengekplorasi potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Dengan kata lain manajemen kelas juga bertujuan untuk mengupayakan agar peserta didik pada saat mengikuti proses pembelajaran di kelas dapat melakukan aktifitas belajar serta mengerjakan tugas atau kegiatan laiinya sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga menciptkan suasana tertib dan mampu mengembangkan serta membangkitkan sikap siswa untuk bertanggung jawab atas segala prilaku yang ditunjukkan oleh siswa ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.


Untuk mengimplementasikan manajemen kelas secara efektif dan efisien, guru perlu memiliki pengetahuan mengelola pembelajaran dalam kelas yang dimulai dari tahap awal seperti kegiatan merencanakan, memiliki pengetahuan luas tentang bagaimana melakukan pengorganisasian kelas yang baik serta diperlukannya sikap kewibawaan guru yang perlu ditingkatkan sehingga memunculkan jiwa kepedulian, semangat mengajar, disiplin mengajar, keteladanan dan hubungan manusiawi dengan siswa sebagai moral yang bermartabat dalam rangka membantu mewujudkan suasana pembelajaran di sekolah yang kondusif. Disampingi itu juga dalam pengimplementasian manajemen kelas ini guru juga dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer atau guru dalam meningkatkan proses pembelajaran, seperti dengan melaksanakan kegiatan pembinaan pada siswa, memberikan saran-saran positif , tukar pikiran atau sumbang saran guru pada siswa sebagai upaya untuk membangkitkan motivasi dan semangat belajar yang pada akhirnya mengupayakan untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Adapun Urgensi manajemen kelas dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu (1) Kegiatan manajerial yang meliputi kegiatan dalam upaya untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan yang dapat memungkinkan terlaksananya proses pembelajaran seoptimal mungkin sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. (2) Peran guru dalam pengimplementasian manajemen kelas dapat meliputi kegiatan seperti pengorganisasian kelas, pengaturan tempat duduk siswa, pengaturan alat dan bahan serta media pelajaran, pemeliharaan keindahan dan kebersihan ruangan kelas, , dan lain-lain. (3) Pola tingkah laku guru dalam melakukan pengelolaan kelas sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan secara umum dan kualitas pembelajaran secara khusus dapat diwujudkan diantaranya adanya kemampuan guru dalam memahami dan menguasai kurikulum,serta penguasaan dalam memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi dan karakteristik siswa.

Kamis, 08 Juli 2021

LAPORAN BACAAN 6


Nama : LUFTHANITHALIA VIENNANTIKA

NIM : 11901228

Kelas : 4/D Pendidikan Agama Islam


Judul Buku : Membangun Kultur Sekolah


Penulis : Hasan Kamarudin


Penerbit : CV.Bina Karya Utama




"KULTUR SEKOLAH"

Assalamualaikum teman-teman onlineku, sudah lama ni gak buat blog

Kali ini saya akan melaporkan hasil bacaan saya pada salah satu jurnal yang saya telusuri yaitu tentang Kultur Sekolah.

    Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat pluralitas tinggi. Perbedaan berbagai aspek berupa agama, budaya, suku, ras, golongan, dan berbagai bentuk keanekaragaman yang lainnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Adanya sebuah perbedaan merupakan modal besar untuk membangun kehidupan yang penuh dengan kekayaan kehidupan. Setiap kelompok mampu saling memperkaya dan memberikan perspektif kehidupan yang bermanfaat guna meningkatkan kualitas kehidupan bersama (Naim, 2016: 424).


    Harapan kehidupan seperti ini terwujud apabila pluralitas dikelola dengan baik. Mengelola pluralitas dalam realitasnya tidak selalu mudah. Banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi, seperti perilaku rasisme dan intoleransi. Kegagalan dalam mengelola pluralitas bisa menjadi titik mundur karena banyak pertentangan yang terjadi. Bahkan pertentangan tersebut berakhir dengan konflik yang berkepanjangan.


1. 1. Pengertian Kultur


Ketika mendengar kata “Kultur” apa yang kamu ketahui…?


Jadi kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut.


Jadi dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia).


Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.


Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah.


Kondisi ini adalah normal sebagaimana dijelaskan oleh para ahli yang menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:


“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies: unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and geographic location”.


Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon 14 perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.


Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai.


Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi.


Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilainilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar atau membangun sekolah yang bermutu.


Stolp dan Smith menyatakan bahwa kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.


Menurut Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut.


Menurut Zamroni (2005: 15), kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut sekolah. 16 Misalnya, sekolah memiliki spirit dan nilai disiplin diri, tanggung jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, dan semangat hidup. Spirit dan nilai tersebut mewarnai pembuatan struktur organisasi sekolah, penyusunan deskripsi tugas, sistem dan prosedur kerja sekolah, dan tata tertib sekolah, hubungan vertikal dan horizontal antar warga sekolah, acara-acara ritual, seremonial sekolah, yang secara keseluruhan dan cepat atau lambat akan membentuk realitas kehidupan psikologis sekolah, yang selanjutnya akan membentuk perilaku perorangan maupun kelompok warga sekolah.


Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah.


Bagi sekolah dalam membangun disiplin di sekolah sampai saat ini masih menjadi problem utama. Kesulitan sekolah untuk membangun budaya disiplin menjadi program pokok yang terus menerus diupayakan oleh sekolah. Bagi sekolah, bahkan pekerjaan mendisiplinkan masih menjadi tugas keseharian yang harus dilakukan oleh pihak sekolah. Kesulitan menanamkan disiplin belajar, karena sekolah belum berhasil untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya belajar. Pihak sekolah masih terus belajar untuk menanamkan “senang belajar”, karena sampai saat ini masih banyak siswa yang tidak disiplin, terlambat datang ke sekolah, tidak tertib mengerjakan tugas, tidak belajar.


 


Okee teman-teman setelah membahas tentang pengertian kultur sekolah selanjutnya kita bahas tentang karakteristik kultur sekolahh….yuk kita simak😊


 


2. 2. Karakteristik Kultur Sekolah


Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.


Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku 18 dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif.


Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain :


a. adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah


b. berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi


c. adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya


Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah.


Okee teman-teman dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat 20 merubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.

LAPORAN BACAAN 5

 Laporan Bahan Bacaan 


Nama : Lufthanithalia Viennantika


NIM : 11901228


Kelas : 4/D Pendidikan Agama Islam


Judul Buku : Evaluasi Pembelajaran


Penulis : Dr. Elis Ratnawulan dan Dr. H.A. Rusdiana


Penerbit : Pustaka Setia




Sistem Evaluasi





Assalamualaikum teman-teman:)


Diblog kali ini saya akan membahas tentang Sistem Evaluasi Pendidikan. Sesuai dengan sumber buku yang saya baca yang berjudul "Evaluasi Pembelajaran" maka sebagai tugasnya saya akan membuat laporan bajan bacaan tentang buku tersebut:)


Yukk kita simakk penjelasannya:)


Kita pasti tau bahwa berhasil atau tidaknya pendidikan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi terhadap out put atau lulusan yang dihasilkannya. Jika output lulusan, hasilnya sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam tujuan pendidikan, maka usaha pendidikan itu dapat dinilai berhasil, tetapi jika sebaliknya, maka ia dinilai gagal. 


Nahh dari sisi ini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya evaluasi pembelajaran dalam proses pendidikan. Maka dari itu evaluasi pembelajaran merupakan bagian penting dari evaluasi pendidikan pada ummumnya.


Dalam ruang lingkup terbatas, evaluasi pembelajaran dilakukan dalam rangka 

mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik. Sedangkan dalam ruang lingkup luas, 

evaluasi pembelajaran dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan yang di cita-citakan. 


Dalam bidang pendidikan evaluasi pembelajaran merupakan kegitan wajib bagi setiap insan yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Sebagai seorang pendidik, proses evaluasi pembelajaran berguna dalam hal pengambilan keputusan kedepan demi kemajuan anak didik pada khusunya dan dunia pendidikan pada umumnya. 


Setiap perbuatan dan tindakan dalam evaluasi pembelajaran selalu menghendaki 

hasil. Pendidik selalu berharap bahwa hasil yang diperoleh sekarang lebih baik dan 

memuaskan dari hasil yang diperoleh sebelumnya, untuk menentukan dan membandingkan antara satu hasil dengan lainnya diperlukan adanya evaluasi pembelajaran.


Okee teman-teman sekarang kita lanjut membahas tentang definisi evaluasi pembelajaran. Jadi secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris "evaluation" dalam bahasa Arab "al-taqdir" dalam bahasa Indonesia berarti  "penilaian". Akar katanya adalah "value" dalam bahasa Arab "al-qimah". 


Dari beberapa pengertian evaluasi para ahli pun mengemukan pendapat mereka tentang pengertian evaluasi seperti :


1. Lessinger (Gibson, 1981: 374), mendefinisikan evaluasi adalah proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan dengan kemajuan/prestasi nyata yang dicapai.


2. Wysong (1974),mengemukakan bahwa evaluasi adalah proses untuk menggambarkan,memperoleh atau menghasilkan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan suatu keputusan.


3. Uman, (2007: 91), mengemukakan bahwa proses evaluasi adalah untuk mencoba 

menyesuaikan data objektif dari awal hingga akhir pelaksanaan program sebagai dasar penilaian terhadap tujuan program.


4. Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977): evaluation refer to the act or process 

to determining the value of something. Menurut definisi ini, istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai dari sesuatu.


Nahh dari pendapat beberapa para ahli nih dapat kita simpulkan bahwa evaluasi pendidikan adalah suatu tindakan atau kegiatan atau suatu proses menetukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Dengan kata lain, evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga 

dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya.


Setelah kita memahami tentang pengertian evaluasi, selanjutnya kita bahas tujuan pelaksanaan dari evaluasi pendidikan. Jadi, suatu tindakan atau kegiatan atau suatu 

proses menetukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Dengan kata lain, evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya. 


Dalam pendidikan pun, tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap 

(afektif dan psikomotor) ketimbang aspek kognitif. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secara garis besarnya meliputi empat hal, yaitu:

Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya.

Sikap dan pengamalan terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.

Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya.

Sikap dan pendangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.


Selain itu sistem evaluasi juga memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi umum dan fungsi khusus :


1. Fungsi Umum


Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya 

memiliki tiga macam fungsi pokok yaitu :

Mengukur kemajuan

Penunjang penyusunan rencana, dan 

Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.


Selanjutnya Anas Sudijono (2003: 14), menyatakan, bahwa jika dilihat dari fungsi diatas setidaknya ada dua macam kemungkinan hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, yaitu: 

Hasil evaluasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi itu ternyata mengembirakan, sehingga dapat memberikan rasa lega bagi evaluator, sebab tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai sesuai dengan yang direncanakan.

Hasil evaluasi itu ternyata tidak mengembirakan atau bahkan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa berdsar hasil evaluasi ternyata dijumpai adanya penyimpangan, hambatan, atau kendala, sehingga mengharuskan evaluator untuk bersikap waspada. Ia perlu memikirkan dan melakukan pengkajian ulang terhadap rencana yang telah disusun, atau mengubah dan memperbaiki cara pelaksanaannya. 

Berdasar data hasil evaluasi itu selanjutnya dicari metode-metode lain yang dipandang lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan keperluan. 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ungsi evaluasi itu memiliki fungsi menunjang penyusunan rencana.


2. Fungsi Khusus


Secara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat dilihat dari tiga segi:

Segi Psikologis

Apabila di lihat dari segi psikologis, kegiatan evaluasi dalam dunia pendidikan disekolah dapat disoroti dari dua sisi, yaitu sisi peserta didik dan dari sisi pendidik. Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing ditengah-tengah kelompok atau kelasnya.

 

Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kapasitas atau ketepatan hati 

kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukannya selama ini yang telah membawa hasil, sehingga secara psikologis ia memiliki pedoman guna menentukan langkah-langkah apa saja perlu dilakukan 

selanjutnya.


Segi Didaktik

Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara didaktik(khususnya evaluasi hasil 

belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat 

memperbaiki, meningkatkan, dan mempertahankan prestasinya. Bagi pendidik, evaluasi pendidikan secara didaktik itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi, yaitu:

Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.

Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.

Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.

Memberikan petunjuk tentang sejauh manakah program pengajaran yang telah ditetukan dapat dicapai.

 


Segi Administratif

Dilihat dari segi administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga 

macam fungsi:

1) Memberikan laporan

2) Memberikan data

3) Memberikan gambaran.


Sejalan dengan fungsi-fungsi evaluasi di atas, Daryanto, (2010: 16), menyatakan 

bahwa, jika ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka fungsi evaluasi terdapat beberapa hal diantaranya :


a. Evaluasi berfungsi Selektif

Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan 

seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain :

Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.

Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya

Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.

Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya

b. Evaluasi berfungsi Diagnostik

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu diketahui 

pula sebab-musabab kelemahan itu. 


c. Evaluasi berfungsi sebagai Penempatan

Sistem baru yang kini banyak dipipulerkan di negeri barat, adalah system belajar 

sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. 


Sebagai alasan dari timbulnya system ini adalah adanya pengakuan yang besar 

terhadap kemampuan individual. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali di laksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. 


Untuk dapat menentukan dengan pastidi kelompok mana seorang siswa harus 

ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar. (Daryanto, 2010: 16). 


d. Evaluasi Berfungsi Sebagai Pengukuran Keberhasilan

Fungsi dari evaluasi ini menurut Suharsimi Arikunto (1995: 11), dimaksudkan untuk 

mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program 

ditentukan oleh beberapa faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan system kurikulum. 


Adapun fungsi Evaluasi dalam proses pengembangan system pendidikan, menurut Daryanto, (2010: 16), dimaksudkan untuk : 


Perbaikan system

Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 

Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan.


a. Tujuan Umum Evaluasi Pendidikan


Secara umum evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu suatu lembaga dalam melaksanakan programnya.

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. 

Melalui evaluasi akan diperoleh informasi tentang apa yang telah dicapai dan mana yang belum (Mardapi, 2004: 19).

Evaluasi memberikan informasi bagi kelas dan pendidik untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Evaluasi sebagai komponen pengajaran adalah proses untuk mengetahui keberhasilan program pengajaran dan merupakan proses penilaian yang bertujuan untuk mengetahui kesukarankesukaran yang melekat pada proses belajar (Murshel, 1954: 373).

Evaluasi dalam pendidikan dilaksanakan untuk memperoleh informasi tentang aspek yang berkaitan dengan pendidikan.

b. Tujuan Khusus Evaluasi Pendidikan

Secara khususus tujuan evaluasi pendidikan, menurut Gronlund (1976: 8), antara lain:

Untuk memberikan klarifikasi tentang sifat hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Memberikan informasi tentang ketercapaian tujuan jangka pendek yang telah dilaksanakan.

Memberikan masukan untuk kemajuan pembelajaran.

Memberikan informasi tentang kesulitan dalam pembelajaran dan untuk memilih pengalaman pembelajaran di masa yang akan datang.

Pada prinsipnya tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk melihat dan mengetahui 

proses yang terjadi dalam proses pembelajaran.


Dalam kapasitasnya proses pembelajaran memiliki tiga hal penting yaitu, input, transformasi dan output, untuk dievaluasi.


Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. 

Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. 

Output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

Kegunaan Hasil Evaluasi Pendidikan 

Informasi evaluasi dapat digunakan untuk kegiatan, diantaranya:

Membantu memutuskan kesesuaian dan keberlangsungan dari tujuan pembelajaran, kegunaan materi pembelajaran, 

Mengetahui tingkat efisiensi dan efektifitas dari strategi pengajaran (metode dan teknik belajar-mengajar) yang digunakan.

Jadi evaluasi bukanlah aktivitas instan, melainkan adalah sebuah kegiatan yang terdiri dari beberapa tahapan. Dibawah ini ada beberapa tahapan evaluasi yang berlaku secara umum :

Menentukan aspek yang akan dievaluasi

Mengumpulkan data evaluasi

Menganalisis dan mengolah data

Melaporkan hasil evaluasi

Okee teman-teman dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan kegitan wajib bagi setiap insan yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Sebagai seorang pendidik, proses evaluasi pembelajaran berguna dalam hal pengambilan keputusan kedepan demi kemajuan anak didik pada khusunya dan dunia pendidikan pada umumnya. 


Sekian dulu penjelasan dari saya lebih dan kurangnya dimaafkan yaa hehe.

Tetap jaga kesehatan yaa teman-teman apalagi dibulana Ramadan ini. 


Sekian dari saya

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh





SUMBER :


Dr. Elis Ratnawulan dan Dr.  H. A. Rusdiana. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Pustaka Setia

LAPORAN BACAAN 4

 LAPORAN BACAAN 




NAMA : LUFTHANITHALIA VIENNANTIKA


NIM : 11901228


KELAS : 4/D Pendidikan Agama Islam




Identitas Jurnal




Judul : Perangkat Pembelajaran Guru dalam Menunjang Keberhasilan Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri Bontokama Se Kabupaten Gowa


Penulis : Andi Fitriani


Universitas Alauddin Makassar




PERANGKAT PELAJARAN






Assalamualaikum teman-teman onlineku, sudah lama ni gak buat blog.


Alhamdulillah hari ini saya diberi kesempatan untuk menulis diblog ini lagi.


Kali ini saya akan melaporkan hasil bacaan saya pada salah satu skripsi yang saya telusuri yaitu tentang Perangkat Pelajaran PAI.


Ketika mendengar kata “Perangkat Pembelajaran PAI” tentunya yang kita ketahui yaitu pastinya tentang silabus, RPP, media pembelajaran, LKS, dan lain-lain. Maka dari itu mari kita bahas teman-teman.


Mata pelajaran PAI merupakan salah satu disiplin ilmu yang membahas send-isendi ajaran Islam secara formal pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia, meliputi aqidah, akhlak, hukum (syariah), sejarah kebudayaan Islam dari jazirah Arab hingga penyebarannya ke nusantara, serta tokoh-tokoh intelektual muslim pada abad pertengahan.


Pendidikan agama islam juga menjadi mata pelajaran wajib pada setiap satuan pendidikan di Indonesia guna menjadikan bangsa yang berkarakter dan berakhlak mulia. Mata pelajaran PAI sangatlah kompleks, luas, dan mendalam yang meliputi berbagai sendi kehidupan umat Islam.


Pendidikan Islam adalah pendidikan yang diselenggarakan atas dasar hasrat, motivasi, dan semangat untuk memanifestasikan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupupun nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan Islam mensyaratkan adanya aktifitas atau kegiatan yang berlangsung sebagai gerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja serta mempunyai tyujauan sebagai arah dan kondisi ideal yang ingin dicapai dari pelaksanaan pendidikan Islam


Pendidikan agama Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai mahluk individu dan sebagai mahluk sosial. Tujuan itu meliputu seluruh aspek, aspek tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan.


Nahhh, setelah kita memahami apa arti dan tujuan Pendidikan Islam selanjutnya kita bahas tentang perangkat pelajaran PAI yaitu :


Perangkat pembelajaran adalah salah satu wujud persiapan yang dilakukan oleh guru sebelum mereka melakukan proses pembelajaran. Persiapan mengajar merupakan salah satu tolok ukur dari sukses seorang guru. Kegagalan dalam perencanaan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Hal tersebut menyiratkan betapa pentingnya melakukan persiapan pembelajaran melalui perangkat pembelajaran. 


Perangkat pembelajaran merupakan hal yang harus disiapkan oleh seorang guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perangkat adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang belajar.


Tugas guru sebelum mengajar seharusnya ia mempersiapkan diri untuk menyiapkan segala sesuatu untuk kegiatan pembelajaran. Seorang guru sebelum mengajar perlu mempersiapkan perangkat pembelajaran. Namun dalam hal tersebut, guru harus memiliki Kompetensi atau kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperolehnya melalui pembelajaran. Hal ini harus dilakukan kerena pembelajaran merupakan tugas guru yang pertama dan utama, sehingga sudah sepatutnya direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Pembelajaran dapat dilihat dari dua aspek. 


1. pembelajaran dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri atas sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, media pembelajaran, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran dan tindak lanjut pembelajaran (remedial dan pengayaan).




2. Pembelajaran dilihat sebagai suatu proses yang merupakan rangkaian kegiatan Pendidik dalam rangka pembelajaran peserta didik yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.


Upaya membelajarkan peserta didik dapat dirancang tidak hanya dalam berinteraksi dengan Pendidik sebagai satu-satunya sumber, melainkan berinteraksi dengan Pendidik sebagai satu-satunya sumber, melainkan berinteraksi dengan semua sumber belajar yang dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran yang kita inginkan. Inti dari perencanaan pembelajaran adalah proses memilih, menerapkan dan mengembangkan, pendekatan, model dan teknik pembelajaran, menawarkan bahan ajar, menyediakan pengalaman belajar yang bermakna, serta mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran dalam mencapai hasil belajar.


Salah satu yang menjadi faktor utama dalam berhasilnya proses pembelajaran yang kita harapkan perlu profesionalisme guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran yang menjadi tugas utama dan pertama, menjadi pokok dalam kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan suasana belajar yang efektif, perangkat pembelajaran salah satu hal utama dalam segala kegiatan di dalam kelas. 


Namun terkadang pendidik sangat menyepelekan hal tersebut dikarenakan pendidik yang kurang mampu untuk membuat dan menyediakan perangkat pembelajaran, dengan adanya peralihan kurikulum sehingga pendidik masih kurang memahami akan pembuatan perangkat pembelajaran secara utuh. Penulis ingin melihat bagaimana Perangkat pembelajaran Guru pendidikan Agama Islam dalam menunjang keberhasilan pembelajaran.




1. Silabus


Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan rancangan penilaian. Dengan kata lain silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.4 Silabus adalah salah satu bagian dari perangkat pembelajaran yang merupakan pengembangan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah tertuang dalam program tahunan dan program semester.




2. RPP


Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembengan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan perlu melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran dengan strategi yang benar untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi kelulusan. Sedangkan pendapat Hamriah Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah kegiatan dalam bentuk perencanaan harian yang harus dibuat oleh guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, karena RPP sedikitnya ada dua fungsinya yaitu fungsi perencanaan, artinya bahwa RPP adalah perencanaan yang terukur oleh guru untuk melaksanakan pula oleh guru sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya.




3. Media Pembelajaran


media pembelajaran adalah alat, metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah. Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh: bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. 




4. Bahan Ajar


Bahan ajar merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Bahan ajar juga diartikan sebagai salah satu bagian dari sumber ajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.




5.Alokasi Waktu


Penentuan alokasi waktu adalah merupakan langkah pertama dalam menerjemahkan kurikulum. Menentukan alokasi waktu pada dasarnya adalah menganalisis pekan efektif dan hari efektif dalam setiap semester pada satu tahun pelajaran. Fungsi analisis pekan efektif dan efektif adalah untuk mengetahui berapa jam efektif yang tersedia dalam setiap semester untuk satu tahun pelajaran untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk menyusuaikan dengan materi yang tertuang standar kompetensi yang merupakan materi minimal yang harus dicapai sesuai dengan rumusan yang ditetapkan dalam standar isi.




6. Program Tahunan


Program tahunan merupakan bagian dari program pembelajaran. Program tahunan memuat alokasi waktu untuk satu tahun pelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yang tertuang dalam standar kompetensi kompetensi dasar sesuai telah direncanakan. Tujuan penentuan alokasi waktu agar seluruh kompetensi dasar (KD) yang ada dalam standar isi dapat dicapai oleh peserta didik. Hal ini sangat penting karena materi pembelajaran yang tertuang dalam standar kompetensi harus sesuai dengan ketersediaan waktu pembelajaran. Artinya adalah bahwa hasil perhitungan




7. Program Semester


Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan yang berisi tentang pekan keberapa, berapa jam pembelajaran dilakukan untuk mencapai kompetensi dasar.




8. LKS 


Penggunaan LKS diharapkan mampu mengubah kondisi pembelajaran dari yang biasanya guru berperan menentukan “apa yang dipelajari” menjadi “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Pengalaman belajar siswa dapat diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lain.


Penyajian pembelajaran PAI dengan menggunakan LKS menuntut adanya partisipasi aktif dari para siswa, karena LKS merupakan bentuk usaha guru untuk membimbing siswa secara terstruktur, melalui kegiatan yang mampu memberikan daya tarik kepada siswa untuk mempelajari kimia. Melalui pembelajaran dengan LKS keefektifan proses belajar mengajar dapat ditingkatkan.




Okeee teman-teman hanya itu saja yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. 


Jangan lupa jaga kesehatan dan Selamat berpuasa


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh