Minggu, 18 April 2021

LAPORAN BACAAN 2

 

LAPORAN BACAAN 2


DI SUSUN OLEH:


Nama                  : Lufthanithalia Viennantika

Nim                      : 11901228

Prodi                   : PAI/4D

M.Kuliah             : Magang 1

Dosen                 : Farninda Aditya, M.Pd.

Judul Buku       : Psikologi Pendidikan

Pengarang        : Drs. M. Dalyono

Penerbit             : Rineka Cipta

Tebal Buku       : 270 halaman


LAPORAN BACAAN

Setelah saya membaca buku karangan dari Drs M.Daylono, terbitan Rineka Cipta. Dengan jumlah halaman 270. Maka saya dapat melaporkan buku ini sebagai berikut:

A.   Pengantar

Pertumbuhan dan perkembangan anak didik memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Pertumbuhan fisik mereka secara kasat mata mungkin sebagian dapat diamati oleh indra dan kitapun dapat membuat interpretasi-interpretasi terhadapnya. Kita terkadang memberikan pendapat bahwa si fulan secara jasmani sehat, cukup gizi dan pertumbuhannya baik dengan hanya mendasarkan pada pengamatan indra sesaat, walaupun tidak seratus persen interpretasi tersebut benar. Akan tetapi tidak semua perkembangan jasmasi yang baik juga diikuti dengan kematangan perkembangan psikologinya. Banyak kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan masyarakat orang-orang yang tampak sehat secara lahiriah ternyata secara psikologis dia sakit. Untuk menginterpretasi bahwa seseorang atau siswa sedang mengalami masalah secara psikologis, tidak cukup hanya dengan pegamatan sesaat. Dibutuhkan penanganan yang khusus dan cermat agar seorang guru memperoleh informasi yang lengkap mengenai anak didiknya sehingga akan memudahkannya untuk memberikan treatment.

Dalam menghadapi siswa yang secara psikologis memiliki masalah, guru harus hati-hati dan secara bijaksana merangkul mereka untuk dibimbing dan di arahkan agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Banyak factor yang melatarbelakangi seorang siswa berprilaku menyimpang dari kebiasaan-kebiasaan yang normatif. Penelusuran terhadap factor-faktor penyebab ini akan membantu guru dalam mendiagnosa masalah yang dihadapi serta langkah apa yang harus dilakukan dalam membantu siswa keluar dari masalahnya. Untuk dapat melakukan semua rangkaian kegiatan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan mengenai psikologi anak pada khususnya dan psikologi pendidikan pada umumnya.

B.   ISI BUKU

Bab. I Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Kejiwaan

Dalam bab ini penulis menjelaskan bahwa psikologi berasal dari 2 kata bahasa yunani, yaitu psyche yang bebarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa. Pada umumnya para ilmuan membagi psikologi menjadi 2 golongan, yaitu:

Psikologi Metafisika, yang menyelidiki hakekat jiwa. Psikologi Empiri, yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku manusia dengan menggunakan pengamatan, percobaan dan pengumpulan berbagai macam datayang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.

Adapun mengenai pendidikan ada beberapa pendapat yang dituliskan diantaranya adalah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga psikologi pendidikan dapat didefenisikan ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan individu atau tingkah lakunya di dalam situasi pendidikan.

Pada dasarnya ilmu jiwa pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan yang meliputi tingkah laku belajar, tingkah laku mengajar, dan tingkah laku belajar mengajar. Inti persoalan psikologi pendidikan dengan tanpa mengabaikan psikologi guru terletak pada siswa. Secara garis besar psikologi pendidikan banyak ilmuan membatasi dalam 3 pokok bahasan, yaitu pokok bahasan mengenai (1) belajar, (2) proses belajar dan (3) situasi belajar.

Di sisi lain, Crow and Crow mengemukakan ruang lingkup psikologi pendidikan antra lain (1) sampai sejauh mana factor hereditas dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar, (2) sifat-sifat dari proses belajar, (3) hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar, (4) signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar, (5) perubahan selama dalam belajar, (6) hubungan prosedur mengajar dengan hasil belajar, (7) teknik bagi penilaian kemajuan belajar, (8) pengaruh pendidikan formal dibandingkan informal terhadap individu, (9) manfaat nilai ilmiah terhadap pendidikan bagi personel sekolah, dan (10) pengaruh psikologi yang ditimbulkan oleh kondisi sosiologi terhadap sikap siswa.

Dari rangkaian pokok di atas tampak jelas bahwa belajar adalah masalah yang paling vital dalam psikologi pendidikan.

Bab. II Peranan Ilmu Jiwa Pendidikan Dalam Dunia Pendidikan

Dalam bab ini di jelaskan bahwa para pendidik diharapkan memiliki pengetahuan psikologis pendidikan yang sangat memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna. Pengetahuan ini akan berguna mempelajari gejala kejiwaan anak, perkembangan anak, minat dan bakatnya, cara belajar dan membimbingnya serta bagaiman mengawasi hasil belajarnya yang tepat.

Menurut Lindgren manfaat psikologi pendidikan adalah untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya. Sementara itu, Chaplin menitikberatkan manfaat psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun rapi dan sistematis. Dari dua macam pendapat tersebut, secara umum psikologi pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dpat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses belajar mengajar.

Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerluksn prinsip-prinsip psikologi, yaitu (1) seleksi penerimaan siswa baru, (2) perencanaan pendidikan, (3) penyusunan kurikulum, (5) administrasi kependidikan, (6) pemilihan materi pelajaran, (7) interaksi belajar mengajar, (8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) metode mengajar, (10) pengukuran dan evaluasi. Untuk menerapkan prinsip-prinsip psikologi tersebut diperlukan guru-guru yang berkompeten dan bertanggung jawab. Berkompeten artinya bahwa guru mampu melaksanakan profesinya dengan baik dan benar. Adapun bertanggung jawab adalah guru mampu mengelola prose belajar mengajar dengan sebaik-baikny sesuai dengan prinsip-priinsip psikologis.

Dengan adanya perkembangan teknologi sekarang ini, dampaknya jugasanat terasa dalam dunia pendidikan. Banyak teknologi yang dikembangkan untuk media pendidikan yang justru dalam penerapannya jauh dari prinsip-prinsip psikologi. Untuk mengatasi persoalan ini hendaknya dalam proses belajar siswa dibawa kepada keaktifan yang tinggi baik secara fisiologi maupun psikologi.

Bab III Teori – Teori Psikologi Belajar 

Dalam Bab ini dijelaskan dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan muncul pula berbagai aliran psikologi pendidikan yaitu (1) psikologi behavoristik, (2) psikologi kognitif, (3) psikologi humansitik. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut, mulcullah teori-teori tentang belajar, yaitu:

Teori belajar psikologi behavioristik, yang berendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkunganmereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reword) dan penguatan (reinforcement). Teori – teori ini dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson dan Guthrie.

Teori belajar psikologi kognitif, yang berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar seseorang terlibat langsung dalm situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha”, “oh”, “I see now”. Teori – teori ini dipelopori oleh Gestalt, Mex Wertheimer, Lewin, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler.

Teori belajar psikologi Humanistis, yang orientasinya utamanya tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk membantu siswa mengembangkan dirinya, mengenal dirinya sendiri sebagai mausia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Tokoh yang menonjol pada aliran ini adalah Combs Maslov, dan Rogers.

Dengan demikian hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tentang tujuan belajar. Bahwa belajar merupakan suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan sedara bersungguh-sungguh, sistematis, mendayagunakan semu potensi yang dimiliki baik fisik mental serta dana panca indera, otak dan tubuhserta aspek-aspek kejiwaan sepertiintelegensi, bakat, minat motivasi dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki hidup untuk mencapai cita-cita.

Dalam perjalanannya, dalam pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar yang meliputi (1) kematangan jasmani dan rohani, (2) memiliki kesiapan, (3) memahami tujuan, (4) memiliki kesungguhan, (5) ulangan dan latihan.

Selain itu, dalam bab ini juga dijelaskan tentang factor-faktor yang mempengaruhi belajar, antara lain factor internal yang meliputi (1) kesehatan, (2) intelegensi dan bakat, (3) minat dan motivasi, serta (4) cara belajar, dan factor eksternal yang mencakup (1) keluarga, (2) sekolah, (3) masyarakat dan (4) lingkunga sekitar

Bab. IV Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

Ada dua bagian kondisional pribadi manusia baik secara jasmaniah maupun secara rohaniah, yaitu (1) bagian pribadi materiil yang kuantitatif dan (2) bagian pribadi fungsional yang kualitatif. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materiil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan, sedangkan bagian pribadi fungsinal yang kualitatif mengalami perkembangan.

1.   Pertumbuhan

Peristiwa pertumbuhan pribadi manusia berawal dari peristiwa awal herediter. Secara genetis manusia terbentuk dari satu sperma dan satu telur. Keduanya mewakili sifat dari orang tuanya yang pada akhirnya akan turun kepada anaknya sebagai individu baru. Dalam perjalanannya, pertumbuhan ini diatur oleh hokum-hukum antara lain (a) pertumbuhan adalah kuantitaif dan kualitatif, (b) pertumbuhan merupakan proses yang berkesinambungan dan teratur, (c) tempo pertumbuhan adalah tidak sama, (d)  taraf perkembangan dari berbagai aspek pertumbuhan adlah tidak sama, (e) kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi-kondisi di dalam dan di luar badan, (f) masing-masing individu tumbu menurut caranya sendiri yang unik, (g) pertumbuhan adalah kompleks, dan semua aspeknya saling berhubungan.

Pertumbuhan yang mengenai tinggi dan berat badan, sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal seperti makanan, gizi, perangai, dan lain-lain. Sedangkan kondisi lingkungan eksternal misalnya suhu udara, aktivitas social, dan lain-lain. Dalam kondisi pertumbuhan normal tinggi badan anak dapat ditafsirkan dengan rumus :

Tinggi badan anak laki-laki =  (tinggi badan ayah + 100% tinggi badan ibu) / 2

Tinggi badan anak perempuan = (tinggi badan ibu + 92% tinggi badan ayah)/ 2

2. Perkembangan

Perkembangan pribadi diartikan sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar. Setiap fungsi tersebut dapat mengalami perubahan.

Perkembangan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan. Kematangan pada fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan fungsi-fungsi kejiwaan. Hokum-hukum dalam perkembangan adalah (1) perkembangan adalah kualitatif, (2) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses hasil dari belajar, (3) usia ikut mempengaruhi perkembangan, (4) masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda, (5) dalam keseluruhan periode perkembangan setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama, (6) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan, (7) perkembangan yang lambat dapat dipercepat, (8) perkembangan meliputi proses individuasi dan integrasi

2.1 Tahap-Tahap Perkembangan

Perkembangan pribadi manusia meliputi perkembangan fisiologis, perkembangan psikologis, perkembangan social dan perkembangan didaktis atau pedagogis.

Perkembangan fisiologis

Menurut Sigmund Freud ada 6 tahap perkembangan fisiologis pada manusia yaitu (a) tahap oral (umur 0 sd sekitar 1 tahun) dimana mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas dinamis manusia, (b) tahap anal (umur 1 sd 3 tahun) yaitu dorongan dan gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran, (c) tahap falish (umur 3 sd 5 tahun) dimana alat-alat kelamin menjadi perhatian penting, (d) tahap latent (umur 5 sd 12/13 tahun) dimana anak belajar bersosialisasi, fungsi imajinasi, ingatan dan pikiran mulai berkembang, mulai mampu berpikir kritis, (e) tahap pubertas (umur 12/13 sd 20 tahun) dimana kelenjar-kelenjar indoktrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan kearah kematangan, (f) tahap genital (setelah umur 20 tahun) yaitu pertumbuhan genital merupakan dorongan penring bagi tingkah laku sesorang.

Perkembangan Psikologis

Menurut Jean Jacques Rousseou perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam 5 tahap, yaitu tahap (a) perkembangan masa bayi (sejak lahir – 2 tahun) dimana perkembangan kepribadian didominasi oleh perasaan, (b) perkembangan masa kanak-kanak (2 s.d 12 tahun) dimana perkembangan pribadi anak dimulai dengan berkembangnya fungsi-fungsi indra anak untuk mengadakan pengmatan, (c) perkembangan pada masa preadolesen (umur 12 s.d 15 tahun) dimana perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan, (d) perkembangan pada masa adolesen (umur 15 s.d 20 tahun) dimana perkembangan terhadap kualitas kehidupan yang diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat, (e) masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun) dimana perkembangan fungsi kehendak sangat dominan.

Pada perkembangan psikologis secara umum ada kegoncangan psikologis dialami oleh individu yaitu pada masa umur 3 atau 4 tahun dimana anak mulai menemukan “aku”-nya, dan pada masa pubertas.

Tahap perkembangan secara pedagogis

Tahap perkembangan pedagogis dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan dan sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan.

Menurut Hohn Amos Comenius, dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan perkembangan pribadi manusia terdiri atas 5 tahap, yaitu tahap (a) tahap enam tahun pertama, yaitu tahap perkembangan penginderaan sehingga anak mampu mengenal lingkungannya, (b) enam tahun kedua, yaitu tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu sehingga mampu menganalisis lingkungan dengan kemampuan daya pikirnya, (c) enam tahun ketiga, yaitu perkembangan fungsi intelektual sehingga anak mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemuka hubungan antar variable di dalam lingkungannya, (d) enam tahun keempat, tahap perkembangan berdikari, “ self direction” dan “self controle”, (e) tahap kematangan pribadi, dimana intelek memimpin perkembangan semua aspek kepribadian menuju kematangan pribadi.

Mengenai perkembangan pribadi dari sudut pandang tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan secara otomatis dapat diambil dari tinjauan pertama. Di sini tinggal memberikan perlakuan-perlakuan yangdiperlukan dalam pendidikan, seperti pemeliharaan makanan, pembiasaan untuk hidup teratur, latihan mengindra, member latihan berpikir, memupuk rasa tanggung jawab dan lain-lain.

Di dalam bab ini juga di jelaskan secara singkat tentang teori – teori yang mempunyai pengaruh terhadap parktek-praktek pendidikan di sekolah antara lain teori nativisme, teori konvergensi, teori naturalism, teori rekapitulasi dan teori empirisme.

Bab V. Pembawaan dan lingkungan

1 Pembawaan

Setiap individu lahir dengan membawa hereditas tertentu, ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya dan selebihnya dari nenek dan moyangnya. Warisan atau keturunan memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Para ahli meyakini bahwa hokum mendel mengenai pewarisan sifat berlaku juga untuk manusia. Warisan atau pembawaan yang terpenting adalah: Bentuk tubuh dan warna kulit Sifat – sifat.

Sifat dan kebiasaan merupakan cora (warna) dari kepribadian seseorang atau suku bangsa. Para ahli telah membagi tipe-tipe manusia berdasarkan sifat yang dimilikinya. Salah satunya dikemukakan oleh Edward Sparanger yaitu (a) manusia ekonomi, yang memiliki sifat hemat, rajin bekerja, (b) manusia teori yang memiliki sifat suka berpikr, meneliti, (c) manusia politik yang suka menguasai dan memerintah, (d) manusia seni yang suka keindahan, (e) manusia agamis yang suka mengabdi dan taat ibadah , yaitu kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Dalam bab ini dijelaskan beberapa teori untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang. Salah satunya adalah tes intelegensi Binert-Simon yang menggunakan persamaan:

,Ket: MA adalah Mental Age, CA adalah Chronological Age.

Interval angka kecerdasannya adalah:

140 – ke atas        = luar biasa cerdas (genius)

120 – 139             = sangat cerdas (superior)

110 – 119             = di atas normal

90 – 109                         = normal

80 – 89               = di bawah normal

70 – 79               = borderline (garis batas)

50 – 69               = debile

26 – 49               = embicile

0  – 25               = idiot

Selain itu masih ada lagi instrument tes intelegensi yang dikembangkan para ahli seperti tes wechler, tes progressive matrics dan tes arny alpha dan beta.

Bakat, yaitu kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang.

Penyakit atau cacat tubuh, penyakit yang dibawa sejak lahir oleh anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2  Lingkungan

Secara fisiologis, lingkugan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system saraf, darah, kelenjar-kelenjer indoktrin dan lain-lain.

Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima individumulai sejak dalam konsesi kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya berupa sifat-sifat gen, selera, keinginan, minat, emosi, perasaan, kebutuhan, kapasitas intelektual, dan lain-lain.

Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan (a) keluarga, (b) sekolah, (c) masyarakat dan (d) keadaan alam sekitar.


Bab VI. Ciri – Ciri Kematangan

Pada bab ini penulis kembali menjelaskan beberapa prinsip dan teori-teori perkembangan menurut para ahli. Diantaranya teori perkembangan menurut Airstoteles, Charlotte Buchler, Johan Amos Comenius, H.C Witherington dan Masrun,MA.  Khusus tentang prinsip kematangan, bahwa yang dimaksud dengan kematangan adalah kemampuan seseorang untuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Singkatnya ia telah memiliki intelegensi. Kecerdasan atau intelegensi seseorang member kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar