Minggu, 02 Februari 2020

Menaruh kepercayaan, eh menuai kekecewaan?


      Assalamualaikum sahabat shalihah. I hope your day is good ya ladies. Pernah ga sih kalian ngalamin kekecewaan karna rasa percaya di sia sia in? Pernah dong pasti nya kan, nah kali ini aku bakalan sharing ni tentang rasa itu, ya rasa yang pernah ada hehe

      Menitip kepercayaan, eh menuai kekecewaan?
Duh sakit banget ya ladies, tapi ga masalah dong kan kita wanita strong hihi
Yuk kita kupas habis tentang kepercayaan yang terkhianati.
      Check this out ladies!

      Detik terus bergulir dan kita menjalani kehidupan dengan kisah-kisah baru bukan? dengan cerita-cerita yang bisa jadi adalah kelanjutan dari cerita di hari lalu atau bahkan dampak dari pilihan-pilihan kita di hari kemarin.

      Dengan banyaknya hal yang dilalui, maka akan ada banyak hal pula yang ingin di bagi. Sebab terkadang manusia tidak bisa menyimpan keluh kesah nya seorang diri. Ia butuh telinga untuk mendengarkan segala celotehnya. Ia butuh seseorang untuk dia percaya. Eits tapi harus hati hati ya ladies.

     Ya bukan karna tidak boleh menaruh percaya pada manusia, hanya saja jangan lupa untuk menjaga agar percaya yang ada tidak disertai harapan dan ekspetasi yang tak terkendali. Mengapa? Agar kecewa tak lagi menghampiri kita ladies hehe

      Untuk menghindari kekecewaan itu, ya salah satu caranya adalah menjaga komunikasi. Komunikasi merupakan pintu masuk untuk datang nya rasa percaya, komunikasi juga benih yang akhirnya membuat seseorang tumbuh rasa percaya kepada orang lain yang awalnya mungkin hanya seorang asing dan bahkan tidak dikenalnya. Hingga akhirnya sampai pada satu bilangan waktu yang tak terprediksi, menjadi lebih terbuka untuk menceritakan seluruh kisah yang dimilikinya.

      Memang nya salah berbagi cerita dengan orang lain? Tentu tidak, sebab dengan begitu kita akan membuka banyak kesempatan terhadap sesuatu. Kok bisa kak? Bisa saja ladies, karena reaksi yang diberikan setiap orang yang mendengarkan cerita atau keluh kesah kita akab berbeda-beda.

      Menyenangkan bukan ketika kita memiliki orang-orang seperti itu? Orang-orang yang selalu kita cari saat sedang susah. Orang-orang yang selalu siap untuk mendengarkan. Orang-orang yang percaya dan selalu mendukung setiap langkah yang kita ambil sebagai yang terbaik.

      Namun, bagaimana jika suatu saat mereka menghilang? Bagaimana jika suara hari timbul permasalahan yang akhirnya membuat kita jadi berjarak dengan mereka? Duh sedih banget kan ladies. Pasti yang akan timbul kemudian adalah rasa kehilangan. Rasa kecewa yang kemudian memuncak dan berakhir dengan keengganan untuk percaya lagi kepada orang lain. Ya, bisa di bilang rasa trauma. Benar begitu, kan?

      Inilah yang terkadang membuat seseorang milih untuk menjadi orang yang independen, dalam arti hanya percaya dan mengandalkan dirinya sendiri tanpa ingin melibatkan orang lain. Memilih menyendiri tanpa merasa perlu untuk berbagi atau menceritakan masalah pribadi kepada orang lain. Mengapa? Karena ia tidak siap untuk kehilangan orang-orang yang ia sayang dan percaya.

      Letak kesalahannya sesungguhnya bukanlah para cerita yang sudah terlanjur tercurah, melainkan diri yang terbawa arus nyaman hingga akhirnya hanyut dalam ketergantungan. Dan jika kemudian seseorang itu akhirnya menghilang, maka yang dibawanya bukanlah lagi sekedar cerita, melainkan pula rasa percaya yang ternyata sudah berubah menjadi kecewa.

      Ladies, sejatinya setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Ya walaupun kita mengetahui bahwa kita sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan orang lain, entah sebagai penyemangat, sebagai tempat untuk bercerita atau sebagai tempat untuk berbagi suka maupun duka.

      Tapi kita pun harus ingat, ada Allah yang selalu bisa kita jadikan tempat untuk bercerita tentang kehidupan ini, untuk curhat dan berkeluh kesah. Allah lah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu. Benar begitu kan, ladies?

     Berbicara mengenai itu, aku jadi teringat akan tulisan dan perkataan seseorang ni ladies.
"Jangan terlalu sibuk mencari bahu untuk bersandar. Sampai lupa ada sajadah untuk bersujud"
-Syahid Muhammad-

     Nah, sebenarnya solusi dari masalah itu kita ga perlu jauh jauh kok mencari solusi nya, cukup dengan jarak antara lutut dan sajadah. 
Bersujudlah sahabat shalihahku ❤

SAYONARA!
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

2 komentar:

  1. Terkadang berharap tidak lah terlalu indah untuk di lakukan namun rasa harap selalu memaksa untuk selalu mengharap. Hilang kuncinya. Membuang harap sambil memnyusur titik singgah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai KR, tak ada salahnya berharap kan? Tapi semoga rasa harap kamu tak menuai kekecewaan yaaa.. Semangat 🌠

      Hapus